Sentimen terhadap Malaysia, negara yang sering dikatakan negara satu rumpun, akhir-akhir ini semakin meningkat saja, terutama akibat peristiwa penangkapan 3 anggota DKP Indonesia yang sedang menjalankan tugasnya mengamankan ZEE negara kita ini. Ditambah lagi masih banyaknya TKI kita yang tersandung masalah hukum di negari jiran dan siap untuk dihukum mati. Rasanya hubungan antara Indonesia dengan Malaysia tidak pernah benar-benar harmonis, terkecuali mungkin untuk Bunga Citra Lestari yang mendapatkan jodoh orang Malaysia. Bahkan karena seringnya Malaysia mengklaim seni budaya Indonesia, nama Malaysia terasa lebih enak apabila dipelesetkan menjadi “malingsia”.

Selain dengan Malaysia, kita juga sering menghadapi masalah yang tidak jauh berbeda dengan negara Singapura, masih segar dalam ingatan saya mengenai David, mahasiswa tingkat akhir yang tewas, kemudian juga kasus banyaknya buronan negara kita yag lari ke Singapura dan sulit untuk bisa ditangkap karena kita tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan negara Singapura.

Melihat kasus-kasus yang terjadi dengan kedua negara tersebut yang merupakan juga negara anggota ASEAN, saya berpikir masihkah ada keuntungan bagi Indonesia untuk bergabung menjadi anggota ASEAN? Lebih lanjut lagi, masih relevankah ASEAN ada? Apabila sudah tidak sda benefit yang didapatkan dari ASEAN, untuk apalagi kita bergabung, kemudian apabila masih ada benefitnya saya akan bertanya lebih lanjut, apakah benefitvyang kita peroleh sebanding dengan harga diri kita yang dipandang sebelah mata oleh kedua negara tersebut? Mari kita sama-sama merenungkan dan akhir kata, apabila jalan diplomasi sudah buntu dan harga diri kita terus diusik oleh Malaysia, maka meniru ucapan Bung Karno “Ganyang Malaysia!”

Tagged with:
 

Leave a Reply