Hari Kamis kemaren saya pergi ke Bandung untuk urusan pekerjaan, mengecek proyek dan meeting dengan klien Swandi+Widjaja. Sesampainya di Bandung saya dan rekan saya Marnendez makan siang di tempat kami biasa makan saat masih mahasiswa, yaitu kantin kuburan. kami menyebutnya begitu, karena memang untuk ke kantin ini kami harus melewati tanah kuburan dulu. 

Kami makan disana dengan menu yang tidak jauh berbeda, yang hilang hanya somay dan otak-otaknya, karena yang membuat sudah berpulang. Ibu pemiliknya, yang biasa menyapal bila saya datang “eh, aden apa kabar?” juga sudah tidak ada, begitu juga si teteh (anakanya). Mereka sudah pensiun katanya, Ibu hanya datang sekali setiap paginya untuk mengontrol saja, dikarenakan usianya sudah tua. Lima tahun sudah saya meninggalkan Bandung, dan banyak sekali yang sudah berubah semenjak saya lulus. Kota Bandung yang semakin macet, udaranya yang semakin panas (saya ingat tahun 97 bila saya mandi jam 7 pagi dinginnya bukan main, dan mana saya berani untuk mandi setelah jam 5, namun sekarang dinginnya sudah jauh berkurang), makin banyak tempat makan dan nongkrong buat anak muda yang harganya kalau menurut saya sangat mahal untuk ukuran mahasiswa (mungkin mahasiswa sekarang tajir-tajir yah?). Bandung semakin kehilangan identitas Bandung nya, yang dulu begitu saya cintai, yang membuat saya ingin menetap di Bandung.

Namun perubahan diharapkan ataupun tidak pasti terjadi, yang jadi pertanyaan adalah perubahan ke arah yang lebih baik atau yang lebih burukkah yang terjadi. Negara kitapun demikian, seiring hebohnya capres-cawapres yang menjadi headline berita baik media cetak maupun elektronik, kita sedang menuju kepada perubahan yang kita doakan bersama menuju ke arah yang lebih baik. Rakyat sendiri sudah bosan dengan janji-janji wakil rakyat serta pemimpin negeri ini yang tidak juga membawa Indonesia lebih baik, namun melihat hasil pemilu dan peserta capres-cawapres kali ini, saya menyimpan asa yang besar. Apalagi dengan mendengarkan deklarasi SBY berbudi, betapa orasinya membuat saya bangga akan apa yang mereka kerjakan bila terpilih sebagai presiden dan wakil, bahkan orasinya menunjukkan bahwa mereka yakin menjadi presiden dan wakil presiden. Dan keyakinan itupun menjadi keyakinan saya dengan melihat kinerja SBY sebelumnya yang cukup terasa dalam pemberantasan korupsi walaupun belum maksimal (terganjal para pelaku korupsi yang di DPR yang merasa terancam).

Jadi dengan SBY berbudi ini saya bisa katakan “No-No yang lain, pilih Yhudoyono dan Budiono”, eh saya gak dibayar jadi juru kampanye yah. Wakaka.

Selamat berubah!

Tagged with:
 

4 Responses to Perubahan, Capres-Cawapres dan SBY berbudi

  1. Fanda says:

    Ya, kita semua berharap semua janji bisa terpenuhi dan akn ada perubahan. Ngomong2, nurut kamu apa yg paling perlu dibenahi pertama-tama utk negeri ini? Menurutku mungkin sistem pendidikan ya, IQ dan EQ generasi penerus masih dangkal. Pdhal itulah yg akn membangun karakter mereka sebagai wakil rakyat dan pemimpin masa dpn.

  2. Teky says:

    kalo menurut saya sih yang harus diperbaiki adalah karakter bangsa ini, kita harus mau untuk terus belajar, hidup jujur, takut TUHAN. supaya bangsa kita bisa maju.

  3. amir says:

    Kalau mau merubah suatu bangsa, maka mulailah dari diri sendiri. kalau semua penduduk negeri ini berkomitmen untuk merubah diri menjadi lebih baik, maka saya yakin bangsa Indonesia akan menjadi bangsa terdepan di pentas dunia :)

  4. aqila says:

    pribsipnya kita sama2 mengkoreksi diri aja, baru kita bisa berubah!

Leave a Reply