Emosi di Jalan

“Don’t fight with their level, kamu tidak akan bisa mengajar orang di jalan.”

Itulah penggalan kalimat dari guru saya Dr. Maqdalene Kawotjo, saat saya bercerita kalau saya masih suka emosi di jalanan. Sekarang bagaimana saya tidak emosi dengan traffic di Jakarta ini yang sangat macet, angkot-metromini-kopaja yang suka gak tau diri menaikan dan menurunkan penumpang di tengah jalan (benar2 di tengah loh, saya sih masih maklum kalau dia minggir), apalagi kalau sudah ngetem, metromini bisa ngetem dengan mengambil 2 lajur jalan, apa gak kesel dan bikin mencet klakson dengan dalem2 (gak tau udah telat yah!!), jadi kepikir pengen ganti klakson dengan klakson kapal biar kenceng sekalian.

Namun itu dulu, kalau sekarang sudah jauh lebih baik, karena semua nasehat dari Dr. Maqdalene Kawotjo (websitenya http://www.maqdalen.net), benar yang beliau katakan kalau kita tidak bisa mengajarkan orang dijalan seberapa benarnya kita atau baik maksudnya. Pertama karena waktunya sangat sempit, jadi bukannya teguran kita membuat lebih baik malah bisa-bisa membuat keadaan menjadi lebih buruk, kedua: percuma berargumen dengan para sopir kendaraan umum itu karena perbedaan level (bukan bermaksud merendahkan), karena memang ada perbedaan pola pikir yang diperoleh dari pendidikan (lah wong SIM nya aja mungkin hasil nembak kok, yah setelah dipikir2 kalo gak nembak berapa persen sih kemungkinan bisa dapet SIM ?)

Jadi sekarang saya belajar untuk lebih sabar di jalan, tokh saya punya impian untuk menjadikan Indonesia lebih baik, dan itu harus dimulai dari diri sendiri. Kita tidak bisa mengubah dunia bila diri kita sendiri tidak mau berubah. Bener gak?

Tags:

Leave a Reply